kawan,, ini adalah MAKALAH ADAT BUDAYA ACEH.
waktu itu gw pernah ditugasin untuk kerja kelompok tentang adat di seluruh indonesia,
dan gw and temen gw milih aceh. check it out! ;-)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG MASALAH
Berbicara tentang Budaya Aceh memang tak habis-habisnya dan tak akan pernah
selesai sampai kapanpun. Topik yang satu ini memang menarik untuk dibicarakan
terutama karena budaya itu sendiri sesungguhnya merupakan segala hal yang
berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia. Jadi,selama manusia itu ada
selama itu pula persoalan budaya akan terus dibicarakan.
Demikian pula halnya budaya Aceh, budaya yang terdapat didaerah yang pernah
dilanda konflik dan Tsunami 26 Desember 2004 lalu. Dua peristiwa besar
yang melanda Nanggroe Aceh Darusalam telah mencatat banyak sejarah.
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME dan sebagai wakil Tuhan di bumi yang
menerima amanat-Nya untuk mengelola kekayaan alam. Sebagai hamba Tuhan yang
mempunyai kewajiban untuk beribadah dan menyembah Tuhan Sang Pencipta dengan
tulus. Suku Aceh merupakan kelompok mayoritas yang mendiami kawasan pesisir
Aceh. Orang Aceh yang mendiami kawasan Aceh Barat dan Aceh Selatan terdapat
sedikit perbedaan kultural yang nampak nya banyak dipengaruhi oleh gaya
kebudayaan Minangkabau.
BAB II
LANDASAN TEORITIS
2.1.PENGERTIAN BUDAYA ACEH
Budaya aceh adalah budaya yang dijalani oleh masyarakat yang adapt istiadatnya
sangat berkaitan dengan islam. Kebiasaan-kebiasaanyang berlaku dalam masyarakat
aceh tidak bertentangan dengan ajaran agama islam. Budaya yang islam ini kita
harapkan dapat tercermin dalam semua tingkah laku dan kehidupan orang aceh.
2.2.CIRI KHAS BUDAYA ACEH
Budaya aceh mempunyai prinsip yang disebut adab dan agama itu tidak ubahnya
seperti zat dan sifat yang tidak dapat dipisahkan. Contoh: dari segi berbusana,
idealnya busana aceh sangat sederhana yakni busana yang menutup aurat, baik
bagi laki-laki maupun perempuan. Dalam budaya aceh bagi anak laki-laki yang
memakai anting disebut tidak waras (pungoe) karena anting itu adalah perhiasan
bagi wanita.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1.ACEH
Aceh merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki aneka ragam budaya
yang menarik khususnya dalam bentuk tarian, kerajinan dan perayaan. Di Provinsi
Aceh terdapat empat suku utama yaitu: Suku Aceh, Suku Gayo, Suku Alas dan
Tamiang
Suku Aceh merupakan kelompok mayoritas yang mendiami kawasan pesisir Aceh.
Orang Aceh yang mendiami kawasan Aceh Barat dan Aceh Selatan terdapat sedikit
perbedaan kultural yang nampak nya banyak dipengaruhi oleh gaya kebudayaan
Minangkabau. Hal ini mungkin karena nenek moyang mereka yang pernah bertugas
diwilayah itu ketika berada di bawah protektorat kerajaan Aceh tempo dulu dan
mereka berasimilasi dengan penduduk disana.
Suku Gayo dan Alas merupakan suku minoritas yang mendiami dataran tinggi di
kawasan Aceh Tengah dan Aceh Tenggara. Kedua suku ini juga bersifat patriakhat
dan pemeluk agama Islam yang kuat.
Setiap suku tersebut memiliki kekhasan tersendiri seperti bahasa, sastra,
nyanyian, arian, musik dan adat istiadat. Kebudayaan Aceh sangat dipengaruhi
oleh kebudayaan Islam. Tarian, kerajinan, ragam hias, adat istiadat, dan
lain-lain semuanya berakar pada nilai-nilai keislaman. Contoh ragam hias Aceh
misalnya, banyak mengambil bentuk tumbuhan seperti batang, daun, dan bunga atau
bentuk obyek alam seperti awan, bulan, bintang, ombak, dan lain sebagainya. Hal
ini karena menurut ajaran Islam tidak dibenarkan menampilkan bentuk manusia
atau binatang sebagai ragam hias. Aceh sangat lama terlibat perang dan
memberikan dampak amat buruk bagi keberadaan kebudayaannya. Banyak bagian
kebudayaan yang telah dilupakan dan benda-benda kerajinan yang bermutu tinggi
jadi berkurang atau hilang.
3.2.UPACARA PERKAWINAN ADAT ACEH
1.TAHAPAN MELAMAR (BA RANUB)
Untuk mencarikan jodoh bagi anak lelaki yang sudah dianggap dewasa maka pihak
keluarga akan mengirim seorang yang bijak dalam berbicara (disebut theulangke)
untuk mengurusi perjodohan ini. Jika theulangke telah mendapatkan gadis yang
dimaksud maka terlabih dahulu dia akan meninjau status sang gadis. Jika belum
ada yang punya, maka dia akan menyampaikan maksud melamar gadis itu. Pada hari
yang telah di sepakati datanglah rombongan orang2 yang dituakan dari pihak pria
ke rumah orang tua gadis dengan membawa sirih sebagai penguat ikatan berikut
isinya seperti gambe, pineung reuk, gapu, cengkih, pisang raja, kain atau baju
serta penganan khas Aceh. Setelah acara lamaran iini selesai, pihak pria akan
mohon pamit untuk pulang dan keluarga pihak wanita meminta waktu untuk
bermusyawarah dengan anak gadisnya mengenai diterima-tidaknya lamaran tersebut.
2.TAHAPAN PERTUNANGAN (JAKBA TANDA)
Bila lamaran diterima, keluarga pihak pria akan datang kembali untuk melakukan
peukeong haba yaitu membicarakan kapan hari perkawinan akan dilangsungkan,
termasuk menetapkan berapa besar uang mahar (disebut jeunamee) yang diminta dan
beberapa banyak tamu yang akan diundang. Biasanya pada acara ini sekaligus diadakan
upacara pertunangan (disebut jakba tanda). Acara ini pihak pria akan
mengantarkan berbagai makanan khas daerah Aceh, buleukat kuneeng dengan
tumphou, aneka buah-buahan, seperangkat pakaian wanita dan perhiasan yang
disesuaikan dengan kemampuan keluarga pria. Namun bila ikatan ini putus
ditengah jalan yang disebabkan oleh pihak pria yang memutuskan maka tanda emas
tersebut akan dianggap hilang. Tetapi kalau penyebabnya adalah pihak wanita
maka tanda emas tersebut harus dikembalikan sebesar dua kali lipat.
3.PERSIAPAN MENJELANG PERKAWINAN
Seminggu menjelang akad nikah, masyarakat aceh secara bergotong royong akan
mempersiapkan acara pesta perkawinan. Mereka memulainya dengan membuat tenda
serta membawa berbagai perlengkapan atau peralatan yang nantinya dipakai pada
saat upacara perkawinan. Adapun calon pengantin wanita sebelumnya akan
menjalani ritual perawatan tubuh dan wajah serta melakukan tradisi pingitan.
Selam masa persiapan ini pula, sang gadis akan dibimbing mengenai cara hidup
berumah tangga serta diingatkan agar tekun mengaji.
4.UPACARA AKAD NIKAH DAN ANTAR LINTO
Pada hari H yang telah ditentukan, akan dilakukan secara antar linto (mengantar
pengantin pria). Namun sebelum berangkat kerumah keluarga CBD, calon pengantin
pria yang disebut Calon Linto Baro (CLB) menyempatkan diri untuk terlebih
dahulu meminta ijin dan memohon doa restu pada orang tuanya. Setelah itu CLB
disertai rombongan pergi untuk melaksanakan akad nikah sambil membawa mas kawin
yang diminta dan seperangkat alat solat serta bingkisan yang diperuntukan bagi
CDB.
Sementara itu sambil menunggu rombongan CLB tiba hingga acara ijab Kabul
selesai dilakukan, CLB hanya diperbolehkan menunggu di kamarnya. Selain itu
juga hanya orangtua serta kerabat dekat saja yang akan menerima rombongan CLB.
Saat akad nikah berlangsung, ibu dari pengantin pria tidak diperkenankan hadir
tetapi dengan berubahnya waktu kebiasaan ini dihilangkan sehingga ibu pengantin
pria bisa hadir saat ijab kabul. Keberadaan sang ibu juga diharapkan saat
menghadiri acara jamuan besan yang akan diadakan oleh pihak keluarga wanita.
Setelah ijab kabul selesai dilaksanakan, keluarga CLB akan menyerahkan Jeunamee
yaitu mas kawin berupa sekapur sirih, seperangkat kain adat dan paun yakni uang
emas kuno seberat 100 gram. Setelah itu dilakukan acara menjamu besan dan
Seleunbu Linto/Dara Baro yakni acara Suap-suapan di antara kedua pengantin.
Makna dari acara ini adalah agar keduanya dapat seiring sejalan ketika
menjalani biduk rumah tangga.
5.UPACARA PEUSIJEUK (TAMPUNG TAWAR)
Yaitu dengan melakukan upacara tepung tawar, memberi dan menerima restu dengan
cara memerciki pengantin dengan air yang keluar dari daun seunikeuk, akar
naleung sambo, maneekmano, onseukee pulut, ongaca dan lain sebagainya minimal
harus ada tiga yang pakai. Acara ini dilakukan oleh beberapa orang yang
dituakan (sesepuh) sekurangnya lima orang.
Tetapi saat ini bagi masyarakat Aceh kebanyakan ada anggapan bahwa acara ini
tidak perlu dilakukan lagi karena dikhawatirkan dicap meniru kebudayaan Hindu.
Tetapi dikalangan Ureung Chik (orang yang sudah tua dan sepuh) budaya seperti
ini merupakan tata cara adat yang mutlak dilaksanakan dalam upacara perkawinan.
Namun kesemuanya tentu akan berpulang lagi kepada pihak keluarga selaku pihak
penyelenggara, apakah tradisi seperti ini masih perlu dilestarikan atau tidak
kepada generasi seterusnya.
BAB IV
PENUTUP
4.1.KESIMPULAN
Aceh merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki aneka ragam budaya
yang menarik khususnya dalam bentuk tarian, kerajinan dan perayaan. Kebudayaan
Aceh sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Tarian, kerajinan, ragam hias,
adat istiadat, dan lain-lain semuanya berakar pada nilai-nilai keislaman.
Contoh ragam hias Aceh misalnya, banyak mengambil bentuk tumbuhan seperti
batang, daun, dan bunga atau bentuk obyek alam seperti awan, bulan, bintang,
ombak, dan lain sebagainya. Kesehatan ibu hamil harus terus di perhatikan. Hal
ini dapat dilihat dari pelayanan keluarga terhadap kebutuhan ibu dari saat
hamil sampai melahirkan, baik dari segi makanan, ramuan, obat–obatan,
thet batee (bakar batu), salee (diasapi), dan lain-lain.
Fenomena syariat Islam di Aceh hari ini cendrung mengarah kepada pendistorsian
syariat itu sendiri. Di satu sisi budaya masyarakat Aceh adalah budaya yang
sangat mendukung pelaksanaan syariat Islam, tapi pada prosesnya mengalami
hambatan di tingkatan atas, yaitu elite-elite politik yang cenderung menjadikan
syariat Islam itu sebagai komoditas politik yang berorientasi pada kekuasaan.
Indikasinya ditandai dengan lambannya proses pembuatan kanun-kanun (UU).
DAFTAR PUSTAKA
http://destririfhani.blogspot.com/2011/03/adat-dan-budaya-aceh.html
http://maswardy07.blogspot.com/2011/05/adat-dan-budaya-aceh-sangat-bangat-tapi.html
Thaib,Rosita.2008.SINTAKSI. Banda aceh :Universitas syah kuala.
Masakan
§ Kuah Masam Keu'eueng
§ Kuah Pliëk u
§ Kuah Beulangong
§ Kuah Lada
§ Kuah Sie Kamèng
§ Masak Mirah
§ Masak Puteh
§ Mie Aceh
§ Keumamah
§ Bu Guri
§ Bu Leumak
§ Sie Reuboh
§ Keukarah
§ Timphan
§ Meuseukat
§ Halua
§ Cingkhuy (kue khas Lam
No)
§ Kuwéh Seupét
§ Kuwah Tuhe
§ Kanji Rumbi
§ Boh Usen
§ Bhoi
§ Sagon
§ Dodoi (dodol)
§ Dughok/Lughok
§ Apam
§ Pulot
§ Seulincah Aceh (rujak
Aceh)
§ Adè
§ Apam
§ Boh Rom-rom
Lirik Lagu Daerah Aceh Bungong Jeumpa
Bungong jeumpa bungong jeumpa megah di Aceh
Bungong telebeh, telebeh indah lagoina
Bungong jeumpa bungong jeumpa megah di Aceh
Bungong telebeh, telebeh indah lagoina
Puteh kuneng mejampu mirah
Bungong si ulah indah lagoina
Puteh kuneng mejampu mirah
Bungong si ulah indah lagoina
Lam sinar buleun lam sinar buleun angen peu ayon
Bungong mesuson mesuson, nyang malamala
Lam sinar buleun lam sinar buleun angen peu ayon
Bungong mesuson mesuson, nyang malamala
Lirik lagu tari saman
10. Hey la hotsa
Hey la hotsa
Ela ombak me alun kapaidi
Estrum lame bure bure hay becuthe
Sala labu konsa lalun salamun
Laipong awaidi gata lamperahaum
Raya labung kahum cabang kapatah
Tiang kamengku ala menyone
Gese raden ngone sayang wahay cut
abang de wayan , senta lam perahum
Raya labung kahum cabang kapatah
Tiang kamengku ala menyone
Gese raden ngone sayang wahay cut
abang de wayan , senta lam perahum